Minggu, 22 September 2019

Mohammad Hatta: Dilema Masa Kini dan Masa Depan Perekonomian di Indonesia


KAJIAN SOTOI ]
Mohammad Hatta: Dilema Masa Kini dan Masa Depan Perekonomian di Indonesia
*Pemateri: Kiagus M. Iqbal*
Kala kita berbicara masa depan, maka kita akan bertanya ‘apa yang akan kita lakukan selanjutnya dan apa tujuan yang ingin kita capai di masa depan?’ Pertanyaan ini akan menjadi sangat normative maupun deskriptif ‘apa yang akan dilakukan dan apa yang harus dilakukan?’

Mohammad Hatta, Wakil Presiden Pertama RI cum Ekonom Pionir masa awal Indonesia, telah merumuskan apa yang akan dilakukan dan apa yang harus dilakukan. Berbicara masa depan, perlu untuk gambaran-gambaran besar (Grand Design) seperti apa Indonesia saat itu.

Rumusan itu, Ekonomi Indonesia di Masa Datang, ditulis pada 3 Februari 1946 untuk Konperensi Ekonomi di Yogyakarta, telah memuat dasar-dasar (asas-asas) hingga pengerangkaan alur-alur ekonomi yang akan ditempuh di masa depan. Meski bersifat klasik, ada baiknya untuk membicarakan pemikiran beliau yang masih dianggap relevan dan ditarik untuk di masa sekarang. Pertanyaannya, meskipun relevan, apakah pemikiran tersebut masih bisa berlaku atau justru sudah usang? Lalu, apa saja kritik yang perlu untuk perbaikan konsep pemikiran ekonmi Hatta tersebut (Hattanomics)?
***

Dasar-dasar perekonomian Indonesia, pada dasarnya, sudah jelas, tercantum dalam Pasal 33 UUD 1945, dalam tiga poin penting.
1.      Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan;
2.       Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak, dikuasai oleh Negara, dan;
3.      Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Intisari dari tiga poin diringkas menjadi dua hal, yaitu koperasi (sebagai sistem maupun lembaga), penguasaan aset Negara Bangsa (Cabang Produksi hingga Sumber-Sumber Agraria), dengan tujuan sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Memahami tiga poin pemikiran tersebut, perlu untuk memahami konteks sejarah yang melatarbelakangi lahirnya dasar-dasar perekonomian itu.

“Perekonomian sesuati negeri pada umumnya ditentukan oleh tiga hal. Pertama, kekayaan tanahnya. Kedua, kedudukannya terhadap negeri lain dalam lingkungan internasional. Ketiga, sifat dan kecakapan rakyatnya serta cita-citanya. Terhadap Indonesia, harus ditambah satu pasal lagi, yaitu sejarahnya sebagai tanah jajahan.” (hlm. 34)

Indonesia mengalami masa-masa kolonialisme sebagai tanah jajahan yang disifatkan sebagai ‘alat produksi utama’ bagi negara induk. Hatta meringkasnya menjadi dua hal:
Hindia Belanda memasang kebijakan ekspor-ekstraktif dan pengerahan tenaga kerja secara besar-besaran (suatu proses akumulasi primitive yang lumrah dalam perkembangan kapitalisme global).  
  
Kebijakan ekspor-ekstraktif mengandalkan pada perdagangan komoditas tertentu yang laku di pasaran global (dalam hal ini konsumen notabene orang-orang yang telah mengalami ‘kemajuan’ Industri di Eropa dan Amerika Utara). Akibatnya, relasi komoditas global yang mendalam, pelan tapi pasti, membutuhkan alat-alat dan instrument-instrumen produksi.

Hindia Belanda, dengan kekayaan tanahnya, mengalami boom komoditas yang ternyata tidak hanya laku, juga subur tumbuh kembang. Dengan potret itu, wajar pada masa-masa krisis Belanda menghadapi perang yang terjadi di Eropa dan di Jawa (1800-1830), bisa menyelamatkan mereka dari gempuran krisis itu. Muncul anekdot, “Hindia Belanda merupakan gabus yang menyelamatkan Belanda dari terpaan badai krisis.”

Hindia Belanda telah mengalami dua (malah tiga) masa tahap kolonialisme: kolonialisme organisasi dagang (1603-1799), kolonialisme-berbasis-negara (kolonialismemerkantilisme) [1830-1870, berakhir total tahun 1900-an), dan kolonialisme-berbasisliberalisme-klasik (1870-1942). Artinya, pendudukan wilayah Nusantara telah mengalami dinamika yang tidak bisa kita pukul-rata (meski tujuannya satu, yaitu penguasaan sumber agraria demi kepentingan akumulasi laba).

Hal ini juga mencerminkan dinamika usaha penguasaan sumber agraria di Hindia Belanda. Penguasaan politik kewilayahan secara tidak langsung merupakan instrument penting dalam konteks kolonialisme Belanda (dan umumnya memang begitu). Artinya, penjagaan agar sumber agraria itu tidak ‘kabur’ kemana-mana dipegang oleh otoritas politik yang telah melakukan ‘klik’, melalui perjanjian politik maupun melalui berbagai intrik politik (bahkan, bila perlu, dengan turun senjata).

Pendudukan sumber agraria (dalam hal ini adalah kebutuhan akan lahan yang cukup untuk bisa mengakumulasi laba yang ditransfer ke negeri Induk) ditambah dengan mekanisme domeinverklaring. Mekanisme ini ‘mengikhtiarkan’ tanah yang pada dasarnya tidak dapat dibuktikan hak kepemilikannya (secara hukum formil), maka tanah itu dideklarasikan menjadi milik negara.

Domeinverklaring tersebut menjadi kata kunci penting terhadap dilemma penguasaan sumber agraria yang (seharusnya) tidak dapat dipandang sebagai asas (domein) penguasaan agraria di Indonesia. Artinya, asas domein itu menjadi titik krusial bagi penguasaan social ekonomi Indonesia, bila ditarik, menjadi dilemma.
***
Dasar sosial ekonomi di Indonesia pada masa awal (mungkin hingga sekarang) masih tergantung pada bidang pertanian dan bidang-bidang yang memproduksi barang-barang mentah lainnya (perikanan dan kelautan, peternakan, dan lain sebagainya). Artinya, kunci sosial ekonomi di Indonesia masih di sekitar tanah dan tenaga kerja.

Dalam konsep dualism ekonomi J.H. Boeke, terdapat pola perekonomian yang saling berbentur dan tak bisa digabungkan satu sama lain, ekonomi timur (Hindia-Belanda) yang padat tenaga kerja pedesaan (dan tanah!) dan ekonomi barat (Eropa dan Amerika Utara) yang berbasis pada kerja modal (dan manajemen, tenaga kerja terorganisir dan terlatih). Konsep ini dikritik karena menggambarkan masyarakat statis dan tidak seimbang satu sama lain (katakanlah terlalu Rasis!).

Sedangkan seorang ahli lainnya, Egbert De Vries, memandang benturan itu dari pola perekonomian yang pada dasarnya berbeda kepentingan dan mengalahkan (serta ketidakseimbangan satu pihak dengan lainnya). Bila masyarakat Timur di Hindia Belanda notabene memiliki sumber-sumber penghidupannya pada masyarakat pedesaan yang bergotong royong (sumber tenaga kerja manusia) dan tanah, masyarakat Barat (notabene penduduk koloni Belanda) menguasai modal dan manajemen organisasi (hal ini termasuk dengan masyarakat Cina yang bersifat transitif antar-keduanya).

Fokus Hatta berada pembangunan ekonomi Indonesia berbasis sumber daya manusia. Dengan poin usaha bersama dan asas kekeluargaan, Hatta berusaha ‘memperbaharui’ tenaga manusia Indonesia menjadi lebih baik. Pasalnya, pengurasan tenaga kerja manusia di Hindia Belanda selama masa colonial (Tanam Paksa hingga rezim Kapitalisme-Liberal) dan pendudukan Jepang (Romusha dan pengerahan sumber daya agraria yang serba eksploitatif dan keras), membuat Indonesia sempoyongan pada masa-masa awal. Wajar terdapat kata-kata ‘bangsa kuli alias pekerja kasar’.

Kebijakan sosial ekonomi tersebut mencakup pembangunan koperasi sebagai sistem dan lembaga ekonomi yang berbasis pada ‘kebersamaan alias gotong royong’ juga ‘membangun secara mandiri tenaga manusia di dalam masyakatnya sendiri’ (self-help dan auto-activiteit).

Selain itu, kebijakan yang lain dan tak kalah penting adalah perlindungan basis produksi penting, yaitu tanah. “Tanah adalah faktor produksi yang terutama. Buruk baiknya penghidupan rakyat bergantung kepada keadaan milik tanah.” (hlm. 39) Maka dari itu, tanah tersebut perlu untuk ditangani seperti yang dikatakan Hatta sebagai berikut
“Sebab itu, tanah tidak boleh menjadi alat kekuasaan orang seorang untuk menindas dan memeras hidup orang banyak, dan sebab itu pula dalam perusahaan besar, yang berpengaruh atas penghidupan orang banyak, tanah itu tidak boleh miliknya orang seorang, tetapi mestilah di bawah kekuasaan pemerintah.” (hlm. 39)

Baik pembaharuan tenaga kerja maupun ketersediaan tanah di Jawa (suatu pulau dengan konsentrasi penduduk terpadat dan kedudukan politik kekuasaan yang sentral), mengalami ketidakseimbangan. Rasio luas lahan dengan penduduk yang timpang, menimbulkan berbagai masalah, baik ruang hidup, penghidupan maupun kesejahteraan penduduk.

Kepadatan penduduk yang begitu besar di Pulau Jawa, memerlukan kebijakan pemerataan sebaran penduduk. Hatta melihat transmigrasi menjadi kebijakan penting untuk mengara pada itu. Persebaran penduduk yang timpang, terkonsentrasi di Pulau Jawa, menjadi urgen untuk menghindari segala masalah yang akan dihadapi ke depannya (social unrest).

Dengan kebijakan pemerintah yang bersifat top-down (penguasaan asset melalui kepengurusan Negara demi sebesar-besar kemakmuran rakyat dan transmigrasi) dan rangsangan bottom-up (koperasi), diharapkan dapat menjadi kebijakan yang tepat dalam membangun dasar perekonomian, yang di atasnya kelak akan tumbuh rumah ekonomiIndonesia.
***
Akan tetapi, apakah hal itu relevan di masa sekarang? Jawabannya adalah rumit. Pertama, menjaga agar tanah sebagai asset bersama (sebagai milik bangsa Indonesia) masih menjadi kerancuan, terutama dalam landasan kebijakannya. Asas Hak Menguasai oleh Negara tidak dibarengi dengan Hak Bangsa Indonesia, sebagai kendali utama dari kerja Negara (dalam hal ini pemerintah) dalam mengurus tanah yang hingga sekarang masih rentan menjadi alat kuasa politik (yang sifatnya patronase-transaksional).

Dengan kata lain, kata kunci penting bagi Negara, seringkali mengalahkan menguasai hajat hidup orang banyak. Pertentangan itu menjadikan rumusan usaha bersama yang berlandaskan pada asas kekeluargaan menjadi serba rancu. Apalagi, konteks saat itu adalah pola bernegara sebagai pengurus, di mana Negara sebagai representasi Bangsa Indonesia wajib mengurus rakyat sebaik-baiknya.
Pertanyaannya, rakyat yang mana? Apakah kelas menengah perkotaan, kalangan elit atau mengangkat harkat martabat kaum lemah dan tertindas yang selama ini tidak terlihat dari mata kaum elit founding fathers?

Ada tiga pola kebijakan Hatta dalam awal kemerdekaan: Tanah, Koperasi, dan Transmigrasi. Kebijakan mengenai tanah jelas bahwa pada masa awal, pemerintah berkomitmen terhadap redistribusi tanah (baik pemilikan maupun penguasaan) dengan mencabut keberadaan desa perdikan dan konversi tanag swapraja di wilayah Banyumas dan Surakarta-Yogyakarta (1946-1948).

Namun, blunder terjadi kala Hatta pada akhirnya menyetujui Perjanjian KMB dengan menerima poin-poin yang merugikan rakyat (mengembalikan tanah perkebunan luas Belanda dan membayar utang perang Belanda selama perang dunia!). Lalu terjadinya nasionalisasi asset perkebunan luas pada 1958 justru menguntungkan pihak militer (yang ternyata dalam KMB telah menunjukkan kekuatannya menolak kewenangan militer di Indonesia oleh pasukan Belanda).

Nasionalisasi perkebunan yang luas, dan membekasnya logika kebijakan colonial terhadap tanah (domeinverklaring) berubah jubah menjadi Hak Guna Usaha. Meski mematok agar hanya WNI yang berhak mendapat HGU, hal itu masih memiliki celah agar orang asing masih bisa menguasai asset itu melalui kerjasama ventura. HGU dalam UUPA, pada akhirnya, menjadi instrument kebijakan yang merembes pada kepentingan capital besar yang terbukti hingga sekarang.

Studi mengenai koperasi pun sama. Kritik seorang ahli pertanian Belanda pada 1950-an, H. Ten Dam, menemukan fakta menarik bahwa keterlibatan penguasa (dan pemilik?) tanah luas lebih dominan dalam gerakan koperasi, sedangkan para buruh tanu tunakisma dan petani gurem memiliki peran yang minim sama sekali. Artinya, usaha bersama dalam asas kekeluargaan masih didominasi dalam kerangka patron-klien yang khas dalam masyarakat pedesaan yang menandakan adanya ketergantungan dan ketidakberdayaan.

Terakhir, transmigrasi merupakan kebijakan yang justru harus diletakkan posisi hati-hati. Sekalipun baik sebagai pemerata persebaran penduduk, sering terjadi problem-problem yang akan menjadi penyesalan. Seperti terjadinya benturan antar-etnis karena benturan budaya maupun kepentingan ekonomi, masalah penyerobotan tanah, hingga masalah tata guna-manfaat tanah yang satu sama lain berbeda (missal transmigran Jawa biasa dalam bersawah sedangkan tanah di Kalimantan bagus dalam berladang dan rentan bila tanahnya digunduli).

Kritik terhadap transmigrasi telah dilihat oleh Kampto Utomo (Prof. Sajogyo) sebagai bentuk pemindahan kemiskinan ke luar Jawa. Artinya, transmigrasi, betapapun baiknya, belum tentu memberi manfaat, bahkan mungkin akan menimbulkan petaka yang lebih besar ke depannya.

*Pemateri merupakan Wasekum Bidang PTKP HMI Komisariat Tazkia (2013-2014), Wasekum Bidang Pemberdayaan Umat, lalu Ketua Bidang Pemberdayaan Umat (2014- 2015), dan Direktur Bidang Pendidikan dan Pelatihan LAPMI HMI Cabang Bogor (2017- 2018). Kini aktif bergiat di Sajogyo Institute dan Bakornas LAPMI PB-HMI.

Sabtu, 06 Januari 2018

THE LABYRINTH OF DEBT

The Labyrinth Of Debt

Hutang adalah suatu pinjaman dari orang lain yang bertujuan untuk memenuhi kekurangan-kekurangan peminjam. Ada yang berhutang karena memang ia tidak memiliki apa-apa lagi, tetapi tidak sedikit yang berhutang untuk memenuhi trent hidup yang sebetulnya tidak diperlukan karena bukan kebutuhan primer.

Bagi siapapun yang kekurangan dana untuk memenuhi keberlangsungan hidupnya baik itu orang pribadi maupun lembaga dengan mudahnya maka ia akan mengambil keputusan untuk berhutang kepada pihak yang lebih mapan dalam material yang pastinya mempunyai syarat dan ketentuan sendiri.

Kegiatan hutang berhutang ini sudah ada sejak dahulu dimulai ketika pada zaman Nabi Adam as hingga saat ini. Nabi Muhammad SAW begitu memperhatikan dan sangat mewanti-wanti ini agar umat nya tidak mudah untuk berhutang, karena pada dasarnya dengan adanya hutang ini manusia bisa saja saling curiga dan bermusuhan yang akan berdampak pada renggangnya tali silaturahmi. Bahkan bisa saling merenggut nyawa saudaranya karena tak sanggup untuk membayar hutang kepadanya.

Nabi Muhammad menegaskan bahwa apabila manusia mati walaupun ia syahid kemudian masih ada hutang di dunia maka itu akan menghambat perjalanannya menuju syurga. Dosa-Dosa nya kepada Allah akan diampuni tetapi dosa hutang yang tidak bayar tidak akan diampuni sebelum dihisab. Bukan hanya masalah hutang pribadi tetapi juga terkait dengan hutang negara kita, negara Indonesia. Negara juga terlilit hutang yang sangat melimpah yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan negara dan memakmurkan kehidupan rakyatnya.

Dana APBN terdiri dari berabagai sumber diantaranya adalah hutang dan invesatasi dari negara asing. Hutang dan investasi itu akan sangat berpengaruh bagi negara karena apabila tidak bisa membayarnya maka akan dikenakan sanksi ataupun denda yang berlipat ganda atau bisa disebut bunga dari pemberi hutang dan bunga dari investor. Hal ini yang akan menjadi masalah terbesar yang akan dihadapi oleh negara kita.

Setiap tahunnya Indonesia harus mengurangi APBN nya sekitar 20-30 persen untuk membayar hutang-hutang tersebut beserta bunga dendanya. Pada tahun 2006 pemerintah harus mengambil dana APBN untuk membayar hutang sebesar Rp 91,60 Triliun kepada negara asing. Dengan perincian Rp 28,01 Triliun untuk memayar bunga dan hutang pokok sebesar RP 63,59 Triliun. Dengan dana hutang sebesar itu pemerintah sangat terbeban sehingga mengakibatkan terjadinya dana belanja negara yang tidak optimal untuk membangun cita-cita Indonesia yang sejak dahulu. Hal ini terjadi karena manusia yang bekerja di pemerintah itu tidak memirkan rakyatnya.

Dana yang ada pada APBN digunakan untuk pembangunan dan sebagian besarnya malah dikorupsi, mereka terkena jeratan setan yang terkutuk karena mereka selalu menghembuskan keinginan dan terus memenuhi hasyratnya. Akhirnya Indonesia tiap tahunnya mempunyai hutang yang beripat-lipat dan menjadi negara korupsi ke-lima tertinggi di dunia.

Oleh : Kanda Nasrul Latif
Kader HMI Komisariat STEI Tazkia


Senin, 01 Januari 2018

LAND REFORM

[Kajian SOTOI]
(SOlusi Terbaik Orang Islam)


Alhamdulillah senin 28/11/17 Komisariat STEI Tazkia melaksanakan kegiatan rutinnya yaitu Kajian SOTOI yg dipelopori oleh Bidang P3A.

Penyaji adalah Kanda Fathurrahman yg merupakan Sekum Komisariat STEI Tazkia dan di moderatori langsung oleh Kanda Ainul Yaqin Afifi, beliau adalah Formateur terpilih Komisariat STEI Tazkia. Tema SOTOI perdana yang diangkat oleh pemateri tentang "Land Reform".

Secara sederhana land reform mengandung arti perombakan struktur penguasaan tanah, beliau menjelaskan konsep dengan disertai data-data empiris yg ada di Sentul, Kalimantan, Belitung dan Palembang yang memang di benarkan oleh peserta diskusi.

Pemantik yang di berikan oleh penyaji tersebut benar-benar menjadikan forum cukup meriah dan memecah pandangan peserta ibarat blok barat dan timur.

Kanda Dhany memiliki pandangan lain, secara idiologi Land Reform ini adlh konsep sosialis sementara beliau lebih setuju dengan kapitalis, karena dengan pendekatan teknologi, kapitalis dapat lebih membuka lapangan pekerjaan yg besar beda halnya dengan konsep land reform ini.

Pandangan tersebut dibantah oleh Kanda Rijaluddin, "harusnya kapitalis tidak menggunakan kebohongan untuk mengelabui masyarakat, alangkah baiknya dilakukan atas dasar sama-sama ridho, misalkan dalam pembebasan tanah." Begitu pungkas beliau.

Diskusi semakin hangat, adanya beberapa masalah seperti kurangnya pengetahuan masyarakat, diiming-imingi imbalan yg lebih besar, ketidak jelasan surat-surat tanah yg dimiliki sebagian orang, dan faktor lainnya.

Solusi yg diberikan oleh peserta diskusi dan disempurnakan oleh pemateri, antara lain: ~perlunya edukasi terhadap masyarakat tentang pentingnya adm tanah dan ~jangan gampang menjual tanah yg diiming-imingi imbalan besar.

Pemateri menambahkan bahwa beliau mengangkat tema ini untuk meningkatkan kesadaran kita perihal pentingnya permasalahan tanah di berbagai daerah di Indonesia.
Maka dari itu harapan pemateri kepada peserta diskusi untuk lebih mendalami permasalahan ini, agar kita dan orang sekitar dapat terhindar dari masalah yang ada.

Kajian SOTOI 27/11 ditutup dengan pembacaan doa yg dipimpin oleh Kanda Tamimi selaku Kabid P3A. (Aya)

SINERGITAS

[SINERGISITAS]

Yang dikhawatirkan orang pedesaan anak keturunannya yang berada di jaman globalisasi yang tak diimbangi dengan ilmu dan akhlak.

Ada yang putus asa, tidak semangat memberikan wejangan yang tak mempan. Problematika mendidik keluarga musti harus dimulai dari orang tua sebagai sentral rujukan anak. Diperparah lagi gangguan HP dan sejenisnya yang belum mampu memberikan dampak positif signifikan pada mereka.

Kalau di sekolah (madrasah) guru sebagai pendidik, di rumah orang tualah sentral teladan kehidupan. Di sinilah perlu adanya sinergi yang sama antara guru dan orang tua untuk mencapai tujuan yang mulia, mencetak generasi ibadillah ash-sholihin (hamba Allah yang sholeh).

Kalau jaman dahulu kita dapati orang-orang yang memerahkan rambutnya, bertato dan semacamnya sebagai icon orang yang kurang baik (?) hanya di layar telivisi dan perkotaan. Jaman sekarang sudah mulai merambat kepedesaan yang dulunya hal demikian tabu. Diakui atau tidak, inilah secuil potret kehidupan masyarakat.

Kalau jaman dahulu, anak-anak sibuk mengeja a ba ta tsa di langgar-langgar guru ngaji dan bermalam untuk mengaji subuh hari, jaman sekarang anak-anak mulai asyik berkeliaran, nongkrong naik sepeda berjalan tak bertujuan. Disinilah peran strategis orang tua untuk selalu tak bosan dan sabar dalam memberikan pendidikan pada anaknya.

Mungkin iya pada saat demikian anak-anak yang belum mampu mengikuti perintah dan didikan orang tua belum merasakan penyesalan, tapi tidak menutup kemungkinan setelah ia beranjak dewasa, ingin membangun rumah tangga ia dengan sendirinya dan pengakuannya akan menyesali masa-masa lalunya yang tak memaksimalkannya dengan baik untuk masa depan yang lebih baik.

Wassalam.
Bangkalan, 02-01-2018
Oleh Rohmatullah Adny Asymuni


Selasa, 26 Desember 2017

HMI Millenial Calon Cendikiawan Muslim Masa Depan

[WARTA SOTOI]
SOTOI V/SENIN, 25-12-2017
________________________

    [SOTOI] yang merupakan agenda rutin tiap pekan HMI Komisariat STEI Tazkia kembali dilaksanakan di rumah kos 'green house' Lt. II yang dimulai pada jam 19:30 WIB.
    Seperti biasa, agenda dimulai dengan pembacaan Al-qur'an secara bergilir (tadarus) oleh peserta diskusi dan dilanjutkan dengan penegasan °misi HMI° oleh para kader yang dipimpin oleh kanda Abdul Hamid Al-Mansury atau biasa disapa cak mid.
    Diawal diskusi, Kanda Hamid selaku pemateri menyampaikan poin-poin penting dari buku [Tugas cendikiawan muslim] sebagai wacana general bagi peserta diskusi dan sedikit menarik wacana nilai-nilai pergerakan yang di gagas oleh •Dr. Ali syari'ati• pada realitas palestina kini.
     Setelah pemaparan materi selesai, Kanda Dhany Hunta sebagai moderator membuka sesi tanya-jawab dengan format diskusi bagi peserta agar alur diskusi lebih luas.
     Pada sesi tanya-jawab, semua peserta semakin antusias untuk melontarkan pertanyaan. Ananda Janitra, beliau menyampaikan pertanyaan kepada pemateri tentang ✓status dari negara Palestina yang permasalahannya sangat kompleks.
     Pemateri menjawab : "selain dari faktor agama, wilayah Palestina itu memang ada faktor lain seperti deal politik, histori, dan sumberdaya alam yang ingin di kuasai semisal minyak dan sebagainya.
     Kemudian, bagaimana kalau solusi dari konflik palestina ini dengan dijadikannya Al Quds (Yerussalem) sebagai 'wilayah kota suci' dan peradaban. Timpal Ananda Janitra.
     Hal ini untuk menghentikan konflik yang mungkin berkelanjutan dalam perebutan wilayah Palestina dimana konflik tersebut berdasar pada klaim masing-masing pihak.
     Untuk menanggapi 'solusi konflik Palestina' yang di tawarkan tadi, Bang Kiagus mengingatkan bahwa: solusi tersebut terdapat resiko yang mungkin akan berdampak pada negara yang sejenis seperti Libanon, kuwait dan bahkan kota suci Arab Saudi yang kemungkinan akan diambil alih juga oleh Amerika sebagaimana palestina sekarang.
     Catatan dari Bang Kiagus dianalisa berdasarkan pada adanya hak veto yang masih harus dikritisi dan fungsi dari PBB sendiri belum maksimal sebagai mediator politik Internasional.
     Closing statement, pemateri menegaskan bahwa: [Tugas dari mahasiswa khususnya kader HMI] adalah 'melihat gap antara realitas dan idealitas kemudian menjelaskan pada masyarakat serta menggerakkan pada keadaan yang lebih baik di segala aspek kehidupan baik itu di bidang politik, ekonomi dan sebagainya.
      Sebelum do'a penutup, Bang Luthfiyanto sebagai MC mengajak teman-teman untuk memperluas lagi kajian kemarin malam dan bahwa hasil diskusi hanya pemantik untuk menggapai hal-hal baru.
      Di akhir acara, ketum Afifi mengajak semua peserta diskusi untuk berdoa bersama sebagai penutup dan mendoakan teman-teman yang sedang sakit agar cepat pulih kembali, teman-teman yg sehat agar bisa lebih mensyukuri nikmat sehatnya dan temen-temen yg berhalangan ikut kajian dapat dimudahkan langkahnya untuk bergabung di kajian SOTOI selanjutnya.

Jumat, 27 Mei 2016

PERJUANGAN MAHASISWA


Mahasiswa adalah kaum muda yang tercerahkan secara intelektual. Sebagai kaum intelektual sepantasnya kaum muda ini harus memberikan perubahan bagi sekitarnya, baik dalam bentuk sosial, keilmuan dan lain sebagainya, dalam masalah keilmuan sebagai mahasiswa jangan sampai menutup diri dalam perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan, jangan sampai mensensornya, mahasiswa harus mencari ilmu sampai kemana pun saja mahasiswa harus pergi mencarinya, dan yang paling penting dalam mencari ilmu adalah mengamalkannya karena itu adalah salah satu diantara cara untuk mencapai kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia dan di akhirat. 

Kamis, 28 Januari 2016

MANUSIA BEBAL


Oleh: Moyan

Mahasiswa yg gaduh dengan persoalan bebal, hanya segelintir persoalan dengan perlahan dapat menimbulkan perpecahan.
Kontradiktif dalam paradigma bukan sebuah hal yg menjijikan. Seharusnya perlu disadari bombastis dalam sebuah perilaku tak selamanya dapat diterima. Bukan berarti saling menyalahkan ataupun menjatuhkan militansi mahasiswa.

Minggu, 17 Januari 2016

ASURANSI SYARIAH / TAKAFUL (Bagian 1)


By Arijulmanan, M.H.I*
Pengertian asuransi selalu dikaitkan dengan risiko, sebagaimana pendapat para ahli seperti :
Robert I. Mehr dan Emerson Cammack, dalam bukunya Principles of Insurance menyatakan bahwa suatu pengalihan risiko (transfer of risk) disebut asuransi.
D.S. Hansell, dalam bukunya Elements of Insurance menyatakan bahwa asuransi selalu berkaitan dengan risiko (Insurance is to do with risk)

Selasa, 22 Desember 2015

SELAMAT HARI MAULID NABI MUHAMMAD DAN HARI NATAL


Bulan ini merupakan bulan yang menurut hebat penulis merupakan bulan yang memiliki momentum spesial baik bagi pemeluk agama Islam maupun pemeluk agama Kristen. Pasalnya di bulan ini ada dua hari besar yang setiap tahunnya dirayakan oleh kedua pemeluk agama tersebut.

Senin, 23 November 2015

KONGRES HMI KE KONGRES XXIX

Sebelum lahirnya Himpunan Mahasiswa Islam, terlebih dulu berdiri organisasi kemahasiswaan bernama Perserikatan Mahasiswa Yogyakarta (PMY) pada tahun 1946 yang beranggotakan seluruh mahasiswa dari tiga Perguruan Tinggi di Yogyakarta, yaitu Sekolah Tinggi Teknik (STT), Sekolah Tinggi Islam (STI) dan Balai Perguruan Tinggi Gajahmada .

Minggu, 22 November 2015

HMI CABANG BOGOR: TEGUH PENDIRIAN DALAM MEMILIH

Kongres HMI XXIX yang digelar di Pekanbaru 22/11/2015 masing-masing kandidat dan timsesnya mencari dukungan ke cabang-cabang dengan segala cara yang dia tempuh.

Selasa, 10 November 2015

GURU: PAHLAWAN TANPA JASA


Mungkin dari kita ada yang lupa ataukah sudah tidak menghiraukan lagi kontribusi pemikiran, gagasan ilmu hingga kita menjadi mahasiswa adalah interpretasi dari ilmu guru-guru kita yang dulu-dulu. 

Jumat, 23 Oktober 2015

1 TAHUN JOKOWI-JK: REFLEKSI EVALUASI EKONOMI


Oleh: Zainal Arifin Sekedang*
Pada 20 Oktober 2015, pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) resmi berumur satu tahun di masa pemerintahnya  pertumbuhan di bidang ekonomi tidak sesuai dengan target pemerintah, mulai dari target ekspor, impor, perdagangan, sampai penanaman modal.

Selasa, 13 Oktober 2015

HIJRAH INTELEKTUALITAS-SPIRITUALITAS


Di Tahun Baru Islam 1437 H ini tersirat ragam makna tergantung dari sisi mana kita mau menilainya. Kalau dulu, Sang Pembawa Risalah Islamiyah, Nabi akhir zaman, Sayyidina Muhammad Shollallahu 'Alaihi Wasallam menyebarluaskan sinar kemilau nilai ajaran Islam dengan rintangan dan hambatan yang tak pernah reda, silih berganti. Nabi Muhammad dalam meluruskan dan meng-hijrahkan akidah jahiliyah yang telah lama bersarang di hati bangsa Arab menuju akidah yang bersinar bersih dengan keimanan yang sempurna kala itu tidak cukup hanya dengan berpangku tangan menengadahkan telapak tangannya memohon kepada Sang Khaliq tanpa adanya action nyata.

Minggu, 11 Oktober 2015

APAKAH FILSAFAT ITU?


Oleh
The Zul Fadhlan Said


Apakah filsafat itu? Artikel ini berusaha menjelaskan apa sebenarnya filsafat itu. Dikalangan para pakar filsafat memiliki pengertian yang berbeda-beda meski kandungannya sama. Pengertian filsafat menurut Harun Nasution filsafat adalah berfikir menurut tata tertib(logika) dengan bebas (tak terikat tradisi, dogma atau agama) dan dengan sedalam-dalamnyasehingga sampai ke dasar-dasar persoalanya. Menurut Plato ( 427-347 SM) filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada. Aristoteles (384-322 SM) yang merupakan murid Plato menyatakan filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda. Al Farabi (wafat 950 M) filsuf muslim terbesar sebelum Ibn Sina menyatakan filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud dan bertujuan menyelidiki hakekatnya yang sebenarnya (www.academia.edu). Adapun pengertian filsafat versi penulis adalah pengetahuan berfikir secara logika.

Minggu, 04 Oktober 2015

KEPEMIMPINAN DALAM BINGKAI WADIAH



Secara fitrah manusia merupakan makhluk yang sempurna “ laqad khalaqnal insana fi ahsani taqwim”  dan diantara makhluk yang ciptakan oleh Allah swt hanya manusia yang diberi amanah untuk memanej  urusan dunia “ inni ja’iluka fil ardhli khalifah” entah kenapa yang dipilih adalah manusia padahal manusia tidak taat taat amat kepada tuhannya.

Sabtu, 03 Oktober 2015

GILA BOLA "SEPAKBOLA GILA"


Bagi para pecinta sepakbola dunia, minggu ini merupakan minggu yang sangat menyenangkan, mengapa demikian? Karena nan jauh dari negara Indonesia, tepatnya di Eropa yang menjadi kiblat sepakbola dunia akan terjadi pertarungan seru di setiap kompetisinya, di Inggris akan ada  pertarungan sengit antara Meriam Landon Arsenal dan si Setan Merah Manchester United dua klub papan atas liga Inggris, ditempat lain tepatnya di kota Merseyside ada Derby keluarga antara sibiru Everton dengan saudara kandungnya sendiri si merah Liverpool, dua klub kebanggaan kota Merseyside ini salah satu Derby terpanas di negeri Elisabeth, karena kedua klub berasal dari satu rahim stadion Anfield dan selalu mempertontonkan duel yang seru untuk dinikmati. 

SOSIOLOGIS DAN ANTROPOLOGIS JAZIRAH ARAB



Oleh:


Muh. Firmansyah, Dept. Pembinaan Aparatur Organisasi HMI Cab. Bogor


email : firmansyahgres01@gmail.com


            Islam hadir pada kehidupan manusia tidak dalam suatu ruang dan waktu yang hampa nilai, melainkan di dalam masyarakat yang sarat berbagai nilai budaya dan religious. Dalam rangka memahami Islam, maka menjadi penting untuk ikut memahami ruang dan waktu diamana islam diturunkan. Beberapa ilmu untuk memahami tata nilai dalam masyarakat tersebut, diantaranya adalah Sosiologi dan Antropologi. Sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku sosial antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok. Selain itu, sosiologi juga melihat bagaimana institusi sosial mempengaruhi seseorang, seperti pemerintah, agama, dan ekonomi serta sebaliknya. Sedangkan Antropologi adalah ilmu yang membahas tentang keanekaragaman fisik, serta kebudayaannya baik itu tradisi, dan nilai moral. Mengacu pada dua definisi tersebut kita akan memahami jazirah arab dari periodi ke periode dengan Antropologi dan memahami interaksi mereka dengan Sosiologi.

Sabtu, 26 September 2015

Sejarah Pemikiran Ekonomi pada masa Praklasik


Bismillahirahmanirrahim………

Sejarah Pemikiran Ekonomi pada masa Praklasik

Oleh: Malik Abdul Azis Siregar

            Dalam hal ini kita akan membahas bagaimana pemikiran pemikiran awal tentang ekonomi, sebelum ilmu ekonomi mendapat pengakuan sebagai cabang ilmu tersendiri. Pemikiran-pemikiran awal tersebut dikelompokkan atas empat bagian, yaitu Pemikiran-pemikiran ekonomi pada masa yunani kuno, pemikiran ekonomi skolastik, pemikiran ekonomi pada  masa merkantilisme dan pemikiran ekonomi sesuai madzhab fisiokrat.

  1. Pemikiran-pemikiran ekonomi pada zaman Yunani Kuno.

Sesungguhya persoalan ekonomi sama tuanya dengan keberadaan manusia itu sendiri. Tetapi, bukti-bukti konkretnya yang bisa di telusuri hanya sampai pada masa yunani kuno. Seperti yang sudah kita ketahui kata “ekonomi” sendiri berasal dari penggabungan dua suku kata yunani: oikos dan nomos yang berarti “penggabungan dan pengaturan rumah tangga”. Istilah-istilah tersebut pertama kali digunakan oleh Xenophone. Pada zaman ini terdapat beberapa tokoh yang ikut  berperan dalam pemikiran ekonomi seperti Plato, Aristoteles, Xenophon.

Kamis, 10 September 2015

Satu Tahun HMI Tazkia, Tidak Lupa pada Sejarah


Sejarah merupakan akar budaya yang harus dipegang oleh setiap manusia. Dalam sebuah kesempatan Bung Karno pun pernah berpesan agar jangan sekali-kali melupakan sejarah. Sebuah jargon yang kita kenal dengan “jasmerah”. Lalu bagaimana cakap jika sebuah bangsa tercerabut dari akar sejarahnya. Tentu ia akan terombang-ambing di tengah hegemoni bangsa-bangsa. Ia hanya akan menjadi pengikut dari arus massa. Sangat mudah kita temukan contohnya. Kita bisa melihat bagaimana generasi muda saat ini begitu mudahnya mengagumi budaya asing sehingga dalam beberapa kesempatan ia malah terpaksa mengingkari budaya bangsanya sendiri. Bahkan lebih sadis, ia malah menyerang balik budaya bangsa yang telah mengasuh dan membesarkannya.