Rabu, 06 Mei 2015

ANTROPOLOGI ISLAM (2)


Manusia merupakan bagian penting dalam perkembangan agama samawi, termasuk agama islam. Karena itu islam sering juga dikaitkan dengan antropologi atau kita sering mendengar dengan antroplogi islam.
       
Antropologi secara definitif berasal dari kata antropos yang berarti manusia.  Dari definisi, dapat difahami bahwa antropologi adalah ilmu bagaimana mempelajari manusia, berserta hubungan budaya dan manusia itu sendiri.

Hubungan antara budaya dan manusia itu saling mengikat, dimana ada budaya pasti ada manusia yang melestarikan dan mengembangkan budaya tersebut. Seperti yang diketahui bahwa budaya itu muncul dari perbuatan yang dilakukan oleh manusia secara terus menerus dan dalam kurun waktu yang lama.  Karena budaya merupakan hasil dari perilaku dan perbuatan manusia, secara otomatis perbuatan atau tingkah laku manusia pun tidak lepas dari budaya, dalam artian setiap tingkah laku manusia dipengaruhi oleh budaya yang mengakibatkan budaya dan manusia  tidak dapat terpisahkan, seperti telur dan ayam.      

Berbicara antropologi Islam, tentunya berbeda dengan antropologi barat, sebab antropologi barat lebih didominasi oleh akibat pemikiran deduktif empirik, yang menyatakan bahwa segala sesuati harus dipelajari dan dibuktikan secara ilmiah terlebih dahulu baru dapat dipercaya. Sementara dalam antropologi islam, manusia dipandang sebagai khalifah atau pemimpin di muka bumi. Seperti yang dijelaskan dalam referensi-refernsi kalam Arab, kata khilafah berasal dari kata khalafa yang dalam perkembangannya kata khalaf memilik banyak variasi yaitu khalifah, ikhtilaf, dan khalaf. Oleh karenanya, dari masing-masing kata ini dapat diketahui bahwa manusia memiliki sifat yang beragam.            

Dalam “kajian SOTOI” (SOlusi Terbaik Orang Islam) yang menjadi kajian rutinan setiap sepekan sekali, diadakan pada malam selasa yang diikuti oleh kader HMI Tazkia menghasilkan sebuah diskusi hangat, kritis, ilmiah dan bersifat validitas dari berbagai literatur yang dibaca dan dari pemikiran yang logis. Dalam diskusi “kajian SOTOI” mengemukakan poin-poin dibawah ini:        
Tanya jawab kajian:
1. Bagaimana islam memandang budaya (adat) padang dalam hal pembagian warisan bahwa harta yang diterima oleh wanita lebih banyak dari yang diterima laki-laki, padahal seharusnya bagian laki-laki dalam islam lebih banyak?
Jawaban: 
Perlu diklarifikasi dahulu bahwa memang perempuan memperoleh bagian yang banyak bila dibanding laki-laki. Hal itu pada awalnya memang dilakukan oleh para tetua suku minang  demi menjaga kaum perempuan. Jadi harta-harta yang bersifat tetap seperti bangunan, atau pun tanah dari awal sudah diwakafkan (wasiatkan) sebelum meninggalnya orang yang mewarskan hartanya, bukan diwariskan. Jadi, pada dasarnya bukan bersifat warisan, sebab kalau warisan wajib ikut ketentuan yang ada pada ajaran Islam. Islam telah menentukan bagian masing-masing sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadis Nabi Muhammad saw. Itu jawaban setelah mengklarifikasi langsung kepada orang minang.

Apa sebenarnya budaya islam itu?
Jawaban:
Budaya islam dapat diartikan sebagai peraturan-peraturan dalam agama islam yang telah dipraktikkan dan dilakukan secara berulang oleh umat muslim sehingga menjadi kebiasaan dan memasyarakat.

1. Apakah islam melahirkan budaya? Atau islam lahir dari budaya?
Jawaban:
Ada yang menyatakan bahwa “agama dapat melahirkan budaya, namun budaya tidak dapat melahirkan agama”. Agama bersifat universal sedang budaya bersifa partikular dan provan (sementara). Dengan alasan bilamana agama, ditempat yang satu dan yang lain harus sama. Edang budaya di satu tempat dengan tempat  yang lain tidak selalu dan tidak harus sama. Namun walaupun begitu agama dan budaya tidak dapat dipisahkan. Karena budaya pun dapat di islamisasikan.  
2. Apa itu kapitan? Tu dan to?Jawaban;Kapitan merupakan istilah kepercayaan dimana apa yang dpercayai merupakan sesuatu yang kosong atau sesuatu yang tidak ada bisa dilihat dan diyakini memiliki kekuatan. Tu adalah istilah kekuatan baik sedang to adalah yang digunakan untuk yang tidak baik. Walaupun secara hakikat konsep kapitan dan kepercayaan dalam islam berbeda Namun bila dilihat sekila konsep kapitan mirip dengan konsep kepercayaan dalam islam, bahwa sesuatu yang disembah dalam islam (Allah SWT) tidak terlihat dan memiliki kekuatan  untuk mengatur alam semesta. Ini menjadi salah satu penyebab agama islam waktu itu ketika disebarkan oleh para pedagang islam dan walisongo (para da’i) mudah diterima oleh masyarakat.

3. Apa hubungan islam dengan nilai?Islam itu dapat berati nilai. Artinya bahwa nilai yang ada dalam islam itu telah ada sejak pertama kali dicitptakan. Seperti tauhid dan egaliter. Seluruh nabi dan rasul yang diutus oleh Allah mengajarkan nilai-nilai ini (tauhid dan egaliter). Sedang islam juga dapat berarti agama. Bahwa islam merupakan suatu agama yang satu-satunya di ridhai oleh Allah Swt. Islam sebagai agama mimiliki nilai-nilai tertentu yang harus dilaksanakan oleh penganutnya yang tidak ada pada agama lain atau pada nabi dan rasul sebelumnya, seperti kewajiban sholat lima waktu. 
4. Bagaiamana islam menanggapi budaya (perilaku) kebaratan yang banyak dilakukan oleh (pemuda) indonesia saat ini?
Jawaban: Memudarnya nilai islam yang melekat pada masyarakat indonesia, khususnya para pemuda, menyebabkan mudahnya budaya (perilaku) barat masuk menjadi dasar perilaku pemuda. Pendidikn agam yang sedikit yang diterima oleh generasi saat ini menjadi salah satu penyebab dari memudarnya nilai islam ini. Peran dari banyak pihak, orang tua, keluarga, guru, teman dan lingkungan untuk memelihara terjaganya nilai-nilai islam agar tidak pudar sangat dibutuhkan.

Pada awal kehadirannya, islam menghadapi masyarakat yang bodoh (jahiliyah) yang tidak memiliki peradaban dan nilai, ataupun bila ada aturan yang mereka miliki itu hanya berdasar keinginan nafsu mereka. sedikit demi sedikit mampu mengatasi dan merubah kejahiliyan tersebut menjadi sebuah peradaban yang cemerlang. Maka untuk  menghadapi permaslahan umat saat ini, kita harus kembali mencontoh apa yang telah dilakukan islam pada awal kehadiraanya dahulu.
Teori tidak mudah diejawantahkan dalam praktik namun kita harus yakin bahwa usaha pasti sampai pada hasil yang diinginkan. YAKUSA!
Oleh: Anwar Musaddad
Kabid PA (Pembinaan Anggota) 2015-2016.
HMI Komisariat Tazkia
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar