Minggu, 26 Oktober 2014

HIJRAH MENTAL




Hari ini senin, 27 Oktober 2014 negara kita telah memiliki pemimpin baru. Terlepas dari berbagai macam isu miring yang berhembus kencang juga kabar burung yang selalu melayang-layang dalam benak pikiran sehingga entah bagaimana “burung” tadi mendengar kabar, dengan ini kami sampaikan ucapan selamat untuk presiden dan wakil presiden terpilih. Selamat, karena Allah Subhaanahu wa Ta’alaa telah mentakdirkan Pak Jokowi dan Pak JK sebagai pasangan Presiden dan wakil Presiden RI ke-7. Sungguh, jabatan presiden ini amatlah amanat yang sangat besar. Ratusan juta rakyat Indonesia menaruh harapan kepada orang nomor satu dan nomor 2 di negeri ini.


Pelantikan Jokowi sebagai presiden ke-7 Republik Indonesia, tidak terlepas dari gencarnya kampanye serta pencitraan yang dilakukan oleh para pendukungnya. Salah satu jargon yang sering digembar-gemborkan adalah mengenai revolusi mental. Revolusi mental dinilai sangat dibutuhkan oleh bangsa Indonesia saat ini. Hal ini tercermin dari semakin banyaknya kemerosotan moral yang terjadi di negeri kita tercinta ini. Hampir tiap hari, kasus–kasus kriminal menghiasi halaman-halaman surat kabar serta sajian berita televisi. 

Merujuk pada kamus besar bahasa Indonesia, revolusi adalah tindakan perubahan yang cukup mendasar dalam suatu bidang. Bahkan dijelaskan dalam definisi utamanya, bahwa kata revolusi berarti perubahan kondisi pemerintahan atau keadaan sosial yang dilakukan dengan kekerasan seperti perlawanan bersenjata. Satu hal yang perlu kita garis bawahi dari definisi diatas, bahwa kata revolusi identik dengan hal kekerasan dan senjata. Lalu, jika dihubungkan dengan kata mental maka apakah berarti perubahan mental seseorang itu harus dilakukan dengan tindak kekerasan dan senjata? Wow, betapa seramnya jika anggapan saya ini ternyata memang benar terjadi.

Berkaca dari hal itu, efektivitas penerapan hukuman dalam penegakkan disiplin hidup dengan mematuhi norma sosial dinilai masih kurang efektif. Hal itu dapat dilihat dari masih munculnya dampak dan akibat negatif yang ditimbulkan dari ketidaksenangan orang yang dihukum. Memang sekilas, orang yang dihukum itu tegar dalam menghadapi hukuman yang ia terima. Namun, pasti hati kecilnya memberontak karena tidak mau menerimanya. Lalu, sebetulnya faktor apa sih yang dapat mewujudkan manusia yang benar-benar “bermental”? 

Mematuhi aturan erat kaitannya dengan kedisiplinan. Nah, untuk menegakkan disiplin secara efektif diperlukan adanya role model yang memberikan contoh keteladanan dalam membangun mental. Artinya jika kita ingin melakukan perubahan mental, maka hal itu perlu dilakukan secara massif dan terstuktur. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan kita uswah hasanah (teldan yang baik) dalam berbagai bidang kehidupan. Betapa banyak lawan yang beliau miliki yang kemudian berubah haluan menjadi kawan. Hal itu, dikarenakan betapa agungnya akhlak dan budi pekerti beliau yang selalu beliau tampilkan ketika berinteraksi dengan semua orang yang beliau temui.

Oleh karena itu, bertepatan dengan suasana tahun baru hijriah ini mari kita sama-sama behijrah. Hijrah yang bukan semata-mata melakukan perubahan diri dengan revolusi, namun hijrah yang benar-benar datangnya dari hati. Mari kita hijrahkan intelektual kita agar ilmu kita lebih bermanfaat untuk masyarakat. Ayo kita hijrahkan emosional kita agar lebih empati terhadap sesama. Yuk kita hijrahkan spiritual kita, agar tidak hanya hidup di tempat ibadah saja melainkan dapat diaplikasikan dalam tiap persoalan hidup kita kapanpun dan dimana pun. Dengan hijrahnya mental intelektual, mental emosional dan  mental spiritual kita ke arah yang lebih bersifat sosial, mudah-mudahan hal itu dapat membentuk karakter kepribadian yang tangguh dan bertakwa sebagaimana kaum muhajirin yang rela meninggalkan harta dan sanak keluarga mereka di Makkah menuju kota Madinah yang penuh cahaya iman dan ukhuwwah. Mari berhijrah!

Ditulis Oleh Alauddin Naufal. A.
Anggota HMI Cabang Bogor
Komisariat stei tazkia
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar