Senin, 20 Oktober 2014

Hipnotis Masal Tanpa Sadar



 
Bermula dari renungan saya dan kawan-kawan akan fenomena menggelitik yang dialami bangsa kita ini. Ketika membayangkan sosok pembantu, pernahkah muncul dalam benak kita gambaran sosok orang asing khususnya Barat yang berperan sebagai pembantu lengkap dengan sapu dan peralatan bersih-bersih rumahnya? Atau pernah kah terbayang dalam benak kita orang barat yang menjadi buruh di ladang atau kebun manakala kita membayangkan sosok seorang buruh? Hampir setiap dari kawan-kawan mengatakan tidak pernah termasuk saya. Selalu yang muncul dalam benak kami ketika sedang membayangkan pembatu adalah orang-orang sumatera, jawa dan lain sebagainya.(maaf bukan rasis) 


Ketika pulang dari berwisata acapkali kita begitu bangganya menunjukkan oleh-oleh berupa foto kita dengan orang bule. Mungkin dalam benak kita orang bule itu hebat semua sehingga muncul perasaan ‘wah’ ketika bertemu dengan mereka sekalipun bule kampung. Sehingga rasanya tidak pantas jika bule itu digambarkan dengan sosok pembantu karena pembantu adalah kaum yang terpinggirkan. Dan kami sepakat bahwa kita ini sedang terkena hipnotis masal. Dibuat tidak sadar sehingga betah menjadi kacung dengan sifat-sifat inlander yang melekat pada diri kita. Mungkin inilah yang disebut dengan “Kelaziman dalam kelainan” yang sering dibahas di kelas pada mata kuliah Metodologi penelitian. Maka tak heran jika kita sering kalah duluan ketika berhadap-hadapan di forum-forum negosiasi. Bisa jadi ini bermula dari sifat minder yang telah mengakar secara kultural.

Berangkat dari renungan terebut saya tergelitik untuk mengenal lebih jauh perihal karyawan bagian kebersihan yang ada di kampus atau yang dikenal dengan sapaan ‘OBE’ seperti yang kawan-kawan mahasiswa sering sebutkan ketika memberi inisial kepada mas-mas atau mbak-mbak yang bepakaian biru dengan perpaduan celana bahan warna hitam yang sering bolak balik membersihkan lingkungan kampus. 

Karyawan kampus yang bergerak di bidang kebersihan ada 8 orang yang berasal dari salah satu lembaga out sourching golongan putih (syariah). Pengistilahan out sourching putih dan hitam saya dapatkan ketika mengikuti kajian ‘kakap progres’ karena yang di undang pada saat itu kebetulan CEO out sourching putih. Dari informasi yang saya peroleh dari karyawan kampus. OBE kampus memperoleh gajih perharian, yakni sebesar Rp. 30.000/hari. Dengan kata lain dalam sebulan OBE kampus menerima gajih senilai Rp. 900.000 dengan jam kerja dari jam 6 pagi sampai habis ashar.

Kehidupan OBE dengan gajih tersebut cobalah kita bandingkan dengan kehidupan kita sebagai mahasiswa yang berada di kawasan Sentul City. Dalam sehari semalam biasanya kita makan 3 kali sehari. Jika di asumsikan sekali makan tujuh ribu maka kita menghabiskan Rp. 21.000. itu baru kebutuhan makan. Coba bayangkan dengan kehidupan OBE yang sudah memiliki keluarga. Berapa seharusnya uang yang mereka butuhkan agar kebutuhan mereka tercukupi. bagaimana mereka berhemat biaya pendidikan, bensin, listrik, rumah dan sejenisnya? Nampaknya kita harus banyak banyak bersyukur sebagai mahasisa yang masih di subsidi orang tua.
Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Posting Komentar