Minggu, 26 Oktober 2014

SELAYANG PANDANG HMI STEI Tazkia


HMI komisariat STEI Takia masih terbilang bocah untuk ukuran keluarga HMI cabang bogor. Komisariat yang lahir pada hari jum’at tanggal 10 Oktober 2014 ini sebelumnya menginduk di HMI komisariat perikanan dan ilmu kelautan IPB (FPIK). Karena salah satu pendahulu kader Tazkia, Bung Imam Hasanul berproses di komisariat tersebut sebelum hadirnya Komisariat Tazkia. Sehingga terukirlah di kanvas sejarah HMI Bogor bahwa telah tercipta hubungan darah antara komisariat FPIK IPB dan komisariat STEI Tazkia. Sehingga mau tidak mau, ketika kita berbicara komisariat Tazkia kita juga akan bersinggungan dengan komisariat yang mangasuhnya hingga kurun waktu 2 Tahun lamanya, yakni komisariat Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB.


HMI komisariat Tazkia di awal kepengurusannya diketuai oleh cak Amou yang terpilih dari hasil musyawarah perdana, tepatnya di kediaman Shofi dan Bilal. Komsisariat ini nampaknya agak ganjil dibanding komisariat-komisariat yang lain. Pasalnya, dengan indentitas sebagai kampus pelopor ekonomi syariah secara tak langsung memberikan corak tersendiri tentang warna komisariat Tazkia ini, yakni komisariat dengan corak ekonomi Robbani atau ekonomi ketuhanan.  Ini baru sebatas hipotesis awal. Kita lihat kedepannya, apa kultur yang akan muncul dari HMI poros Sentul ini. Berada di tengah tatanan kapitalis yang kokoh, perumahan elit di perbukitan **ntul. Akankah dia merupakan stereotip dari nabi Musa masa kini, sang bayi yang dibesarkan di istana Fir’aun.

Pada awal terbentuknya, kurang lebih ada sekitar 30 kader aktif yang menjadi penggerak roda organisasi. Disampingn itu ada satu budaya yang memang sudah terbangun jauh sebelum komisariat disahkan dan diketuk palu, yakni kajian ‘SOTOY’. Kajian yang telah memperkenalkan para kader dengan sifat percaya diri dalam melontarkan pendapat, gagasan, maupun ide. Kajian ini dilakukan sekali dalam sepekan dengan pengatar diskusi yang digilir dari setiap kader. Harus diakui bahwa salah satu akar ketertinggalan bangsa kita adalah minim rasa percaya diri dan takut bersalah. Inilah alasan mengapa kajian SOTOY dihadirkan. Tak lebih sebagai anti tesis dari permasalahan di atas. Karena antara mereka yang tahu dan tidak tahu memang susah dibedakan. Semakin dia tahu, semakin bodoh lah dia. Sehingga mau tidak mau, ketika kita telah mengetahui kebodohan kita, lambat laun kita akan bergerak mencari jawabannya. Dan proses inilah yang akan membentuk kita menjadi insan pembelajar, life long education. Meminjam istilah Tan Malaka, terbentur, terbentur, hingga akhirnya terbentuk.

Tentu dengan hadirnya HMI komisariat STEI Tazkia ini, diharapkan bisa memberikan warna yang berbeda di HMI cabang bogor. Setidakya dinamika antar kader bisa terpantik dengan hadirnya komisariat Tazkia ini, yang nantinya juga akan berdampak pada perkembangan dan dialektika di tubuh HMI cabang Bogor yang memang agak berkurang akhir akhir ini. Praktis semenjak HMI korkom Universitas Ibnu Kholdun memisahkan diri menjadi cabang baru, dinamika di HMI cabang bogor mulai sedikit meredup. Hal ini ditenggarai oleh kader-kader yang berproses di dalamnya hanya berasal dari ruang lingkup yang homogen, yakni cuma kampus IPB. Secara tak langsung kehadiran HMI komisariat STEI Tazkia ini menjadi jawaban dari proses kekeringan dialektika di keluarga HMI cabang bogor. Semoga.

Perkaderan di tubuh HMI ini tersebar dan terbentang di seluruh cabang di indonesia dari sabang sampai merauke, kurang lebih ada sekitar 20 BADKO (Badan Koordinasi) yang menyebar di beberapa wilayah di kepualauan Nusantara ini. sedangkan Jumlah seluruh cabang di Indonesia ada 187 dengan rata-rata komisariat 10 setiap cabangnya. Dan di HMI cabang Bogor sendiri dengan bertambahnya HMI komsariat Tazkia ini, maka ada 10 komisariat dan juga akan segera menyusul komisariat fakultas Ekologi Manusia IPB.
Komisariat yang disahkan di Gedung Serba Guna Mahasiswa Islam ini merupakan komisariat yang akan mengakomodir gerakan perkaderan di kampus STEI Tazkia. Semakin banyak komisariat dengan latar belakang ilmu pengatahuan yang berbeda setidaknya akan menjadi keunggulan tersediri bagi kader HMI. Karena dengan kader HMI yang heterogen secara tak langsung akan menciptakan proses transfer ilmu pengetahuan yang beragam pula. Jika kita berbicara nilai lebih HMI, mau tidak mau kita harus berkaca kepada sesuatu yang kita sebut dengan ‘sejarah’. Pada tahun 60-an kenapa himpunan kita ini banyak dilirik oleh mahasiswa kala itu, salah satunya karena lingkaran pergaulan kader HMI yang begitu luas. Setidaknya pada kongres HMI yang pertama tahun 1957 sudah ada 4 cabang yang berasal dari kota sekitar Jogya. Untuk ukuran zaman itu, ini sudah melampaui zamannya karena belum ada media komunikasi seperti sekarang. Tak heran jika di HMI ini kita sering mendengar semboyan “Di HMI kita berteman lebih dari saudara”, karena memang begitulah yang di alami oleh pendahulu-pendahulu kita. Saat dimana mahasiswa lain masih terkungkung oleh pergaulan di tingkat kampus, kader HMI sudah melanglang buana kesana kemari. Bersilaturrahmi ke tempat kawan-kawan se-Indonesia.

HMI merupakan organisasi yang memelihara tradisi intelektual dengan tiga budaya yang melekat padanya, yakni baca, tulis dan diskusi. Aktualisasi peran intelektual mereka menyebar di berbagai media masa. Karenanya tidak aneh kalau sebagian dari aktivis HMI cukup terbiasa menuangkan pikiran-pikiran dalam sebuah tulisan. Gairah intelektual ini berasal dari berbagai aktivitas dan interaksi dengan sesama kader. Di HMI inilah mereka berkumpul dan berdiskusi dalam segala hal, saling mentrasformasikan hasil bacaan dan pemahamannya yang didapat dari buku-buku dan informasi lain.Walau kita juga harus jujur bahwa akhir-akhri ini mainstream itu sudah mulai memecah haluan ke ranah politis. Hal ini ditandai dengan respon otomatis masyarakat awam ketika mendengar nama HMI, “organisasi politik”. Lagi-lagi beginilah HMI, sebuah organisai yang menawarkan hidangan prasmanan kehidupan, sesuai dengan fitrah kehidupan toh. 

Menyikapi hal tersebut kita bisa berkaca pada HMI cabang Ciputat periode 80-an. Dimana mereka membuat gerakan kultural sebagai tandingan terhadap hasrat politik tersebut dengan mendirikan kelompok studi. Pada saat itu, tercatat kelompok studi semisal Formaci, Dialektika, Flamboyan dan kelompok-kelompok sejenisnya yang menjadi alternatif dalam ber-HMI.

Banyak para alumni atau mungkin para kader HMI sendiri, berpandangan bahwa HMI sekarang ibarat macan tua yang sudah ompong, masa stagnasi, masa menopouse, atau masa-masa sejenisnya yang menggambarkan HMI sebagai sosok organisasi yang sudah mulai melemah gaungnya. Pandangan ini secara keseluruhan tentulah berasal dari perbandingan dengan masa-masa sebelumnya, masa dimana HMI berada di puncak kejayaanya. Biarlah berbagai pernyataan itu berlalu. Namun satu hal yang menyeruak ke permukaan saat ini bahwa kita dilahirkan pada saat-saat dimana kita memang dituntut untut berjuang, berjuang menghidupakan kembali nilai-nilai HMI yang bermaindset ke-islaman, ke-indonesian, dan ke-mahasiswaan. Jangan sampai semangat yang sedang On Fire ini mati muda. Fenomena ini semakin menemukan momennya manakala kita hadir dengan semangat untuk membangun HMI secara kultural di bumi Tazkia. HMI yang membudaya sampai ke titik terdalam sebuah jangakuan perkaderan. Pada akhirnya kita juga harus berkata secara sadar, bahwa semangat juga harus berakhir pada tindakan, tidak hanya berhenti pada kata-kata. YAKUSA!!!

Ditulis oleh Joni Iskandar
Kader HMI Cabang Bogor
Komisariat STEI Tazkia

1 komentar:

  1. kanda alamat blog saya bisa diperbaiki?
    rohmatullahadny.blogspot.com
    dengan huruf kecil semua

    BalasHapus