Kamis, 23 Oktober 2014

Aktivis Telat Wisuda???



www.kokam.or.id 


Dunia mahasiswa merupakan dunia coba-coba. Dimana bung Rhoma pernah berkata bahma masa muda adalah masa berapi-api. Ya.. itulah persisnya dunia mahasiswa. Segala sesuatu seakan merayu untuk minta diselami. Tentu bagi mahasiswa yang sangat aktif di dunia pergerakan akan dengan senang hati meladeni rayuan rayuan tersebut. Sibuk kesana-kemari memenuhi panggilan ide dan kegiatan. Mereka inilah yang di kampus digelari dengan sematan ‘aktivis’.



Mendengar kata aktivis, secara tidak langsung opini masyarakat akan tergiring pada sosok mahasiswa abadi atau sosok mahasiswa tingkat akhir yang tidak tahu kapan masa kuliahnya akan berakhir. Tidak bisa disalahkan, memang begitulah opini yang terbangun. Mahasiswa aktivis adalah mahasiswa yang bermasalah dengan jadwal perkuliahannya. Terlalu sibuk dengan dunia aksi dan wacana sehingga kuliahnya sendiri terbengkalai.


Sekali lagi, tak ada yang salah dengan dunia aktivis. Namun yang perlu dicamkan bahwa kita punya tanggung jawab pada orang tua untuk sesegera mungkin merengkuh gelar sarjana, karena itulah yang menjadi harapan orangtua ketika pertama kali kita menapaki dunia perkuliahan. Toh jika belum mampu membantu keluarga pasca wisuda, minimal kita sudah mengurangi beban keluarga. Haha dilema memang.


Di sisi lain, sebagai seorang aktivis tentu kita mempunyai alasan yang kuat dari setiap aktifitas yang kita lakoni. Ya... begitulah sejatinya seorang mahasiswa. Sosok yang paling mudah mencari pembenaran. Guahahhaha... kau tengok saja di forum-forum debat atau wacana. Betapa lihainya mereka mengemukakan alasan dari setiap wacana publik yang mereka lemparkan. Atau ketika mencari rasionalisasi dari setip kesalahan yang ditimpakan pada mereka. Dalam bahasa sederhana “aktivis mahasiswa itu selalu benar”. Di tingkat pertama sampai kurun waktu 4 tahun kemudian, idealisme itu masih terus mereka pelihara. Baru kemudian di tingkat 5, mereka mulai meragukan landasan dunia aktivis mereka. Dimana kawan-kawan satu angkatan sudah mulai meninggalkan bangku perkuliahan dan telah merengkuh gelar sarjana. Si aktivispun mulai gelisah. Karena pertanyaan dalam bentuk gugatan mulai melanda. Lebih-lebih dari kedua orangtua. “ Nak... Kapan kamu wisuda?” Deg... aktivispun mulai menyadari, selain punya tanggung jawab di dunia pergerakan serta kewajiban mengabdi pada masyaraat (beuh, ngeuuurri yeuh bahasanya), mereka juga punya tanggung jawab yang tak kalah besarnya pada kedua orangtua.


Yup, kesimpulan singkat sebagai pamungkas dari tulisan ini, Betapun sibuk kita dengan dunia organisasi, kuliah jangan diabaikan. Jika mahasiswa terkenal sebagai agen of change, mari kita maknai kalimat tersebut dengan merubah stigma, bahwa aktivis itu kuliahnya pasti lama. Kita mulai bangun budaya bahwa aktivis juga bisa tepat waktu dalam menyelesaikan kuliahnya. Setidaknya ada  kelebihan yang terkandung di dalamnya. Pertama, ketika proses perkuliahan tepat waktu, secara tak langsung akan berdampak juga pada proses lancarnya regenerasi perkaderan organisasi. 


Yok, segera kita bunuh satu persatu kewajiban kita sebagai mahasiswa tingkat akhir. Minimal sekarang kita sudah menentukan judul skripsi yang mau kita teliti. Berlanjut ke bab 1, 2, 3, dan seterusnya. Sudah saatnya para mahasiswa aktivis menjadi teladan. Hal ini sesuai dengan pesan yang tercantum dalam tujuan HMI. “ terbinanya insan akademis”. Semangat produktif kanda, yunda dan adinda sekalian...

1 komentar:

  1. Bagus... Tunjukkan keaktivisannya dengan tetap aktif dan tetap berprestasi dalam akademiknya...

    BalasHapus